Kamis, 17 Maret 2016

Six Sigma


Pengertian dan contoh Six Sigma 






Metodologi Six Sigma pertama kali diperkenalkan oleh Motorola pada tahun 1987 oleh seorang Engineer yang bernama Bill Smith dan mendapat dukungan sepenuhnya oleh Bob Galvin sebagai CEO Motorola pada saat itu sebagai Strategi untuk memperbaiki dan meningkatkan proses serta pengendalian kualitas (Proses Improvement and Quality Control) di perusahaannya. Six Sigma mulai terkenal dan menjadi Populer di seluruh dunia setelah Jack Welch mempergunakannya sebagai 

Bisnis Strategi  di General Electric (GE) pada tahun 1995. Six Sigma adalah suatu metodologi yang dipergunakan untuk melakukan upaya perbaikan dan peningkatan proses yang berkesinambungan atau terus menerus (Continuous Improvement). SIX SIGMA berasal dari kata SIX yang berarti enam (6) dan SIGMA yang merupakan satuan dari Standard Deviasi. semakin tinggi Sigma-nya semakin rendah pula tingkat kecacatan atau kegagalannya. Seperti Tabel konversi Sigma dibawah ini.  


Strategi yang dilakukan oleh Six Sigma adalah :
  1. Fokus terhadap Kepuasan dan Kebutuhan Pelanggan (Customer Focused)
  2. Menurunkan tingkat kecacatan (Reduce Defect)
  3. Berkisar di sekitar Pusat Target (Center around Target)
  4. Menurunkan Variasi (Reduce Variation)

Konsep dasar dari Six Sigma sebenarnya berasal dari gabungan Konsep TQM (Total Quality Management) dan Statistical Process Control (SPC) dimana kedua konsep tersebut berasal dari pemikiran-pemikiran para pakar seperti Deming, Ishikawa, Walter Shewhart dan Crossby. Dalam perkembangannya, Six Sigma yang mulanya adalah sebuah metric berkembang menjadi sebuah Metodologi dan saat ini sudah menjadi sebuah Sistem Manajemen. 

Dalam Penerapan Six Sigma, target atas kecacatan atau kegagalan proses dikontrol dalam target 3,4 DPMO (Defects per Million Opportunities  atau Kegagalan per sejuta kesempatan) yang artinya dalam 1 Juta unit produk yang diproduksi hanya ada 3,4 unit yang cacat. Berarti perusahaan memproduksi produk dengan tingkat kepuasan pelanggan mencapai 99,9997%. 


Tingkatan Posisi bagi orang dalam Metodologi Six Sigma adalah :
1.     Champion / Sponsor (Top Management)
2.     Master Black Belt
3.     Black Belt
4.     Green Belt
5.     Team Members (Anggota Team)
6.     Proses Owner (Pemilik atau orang yang mengerjakan proses)


5 Tahapan dalam Six Sigma

1. DEFINE
Untuk mendefinisikan dan menyeleksi permasalahan yang akan diselesaikan beserta Biaya, manfaat dan dampak terhadap Pelanggan (customer).
Alat-alat (Tools) yang digunakan dalam tahapan Define ini antara lain :
1.     Function Deployment Process Map
2.     SIPOC Map (Diagram Supplier, Input, Proses, Output dan Customer)
3.     Pareto Chart
4.     FMEA (Failure Mode Effect Analysis)
5.     Affinity Diagram
6.     Relation Diagram
7.     Cause and Effect Analysis (Fishbone Chart dan Cause and Effect Matrix)


2. MEASURE
Tahapan Pengukuran terhadap Permasalahan yang telah didefinisikan untuk diselesaikan.
Alat-alat (Tools) yang digunakan dalam tahapan Measurement adalah :
1.     Cause and Effect Analysis (Fishbone Chart dan Cause and Effect Matrix)
2.     Probability Distributions (Distribusi Probabiliti)
3.     Basic Statistic seperti Mean,  Median dan Modus
4.     Gage Reproducibility and Repeatability (GR&R)
5.     Process Capability 
 

3. ANALYSIS
Tahapan untuk menemukan solusi untuk memecahkan masalah berdasarkan Root Cause (Akar Penyebab) yang telah di identikasikan.
Alat-alat (Tools) yang digunakan dalam tahapan Analysis adalah :
1.     Uji Hipotesis (Hypothesis Testing)
2.     Regression
3.     Correlation Analysis
4.     ANOVA (Analysis of Variance)
5.     Multi-Vari Analysis
6.     Contingency Table


4. IMPROVE
Melakukan tindakan perbaikan terhadap permasalahan tersebut dengan melakukan pengujian dan percobaan untuk dapat mengoptimasi kan solusi tersebut sehingga benar-benar bermanfaat untuk menyelesaikan permasalahan yang kita alami.
Di Tahap Improvement, alat yang digunakan adalah DOE atau Design of Experiment yang terdiri dari :
1.     Factorial Design
2.     General Full Factorial Design
3.     Fractional Factorial Design

5. CONTROL

Untuk menetapkan Standarisasi serta mengontrol dan mempertahankan Proses yang telah diperbaiki dan ditingkatkan tersebut dalam jangka panjang dan mencegah potensi permasalahan yang akan terjadi di kemudian hari ataupun ketika ada pergantian proses, tenaga kerja maupun pergantian manajemen.



Contoh penerapan Six Sigma pada Pemerintahan:
Sebagai seorang wajib pajak, tentu akan merasa kecewa bila harus berlama-lama mengantriuntuk melaksanakan kewajibannya. Apa yang dialami wajab pajak tersebut adalah satu dari sekianbanyak masalah yang umum terjadi di KPP, dan biasanya pihak KPP melakukan pendekatan firefighting seperti menambah jumlah pegawai
 frontliner, atau bahkan memberikan kursi tambahan. Solusi-solusi tersebut tidak akan menyelesaikan masalah sampai ke akarnya, seperti fenomena gunung es,
puncak es yang terlihat hanya sebagian kecil dari seluruh ketidak beresan sistem. Jadi, masalah ini harus dilihat secara menyeluruh untuk bisa diselesaikan. Berikut ini adalah penyelesaian masalah tersebut dengan menggunakan metodologi Six Sigma: 


Define
Kepuasan wajib pajak menentukan keberhasilan tugas KPP dalam melayani masyarakat. Didalam fase ini, analis menentukan seberapa kecewa wajib pajak dan berapa lama waktu yangdibutuhkan wajib pajak untuk tidak kecewa. 

Measure
Menentukan dimana masalah berada saat ini. Kegiatan ini meliputi pengambilan data rata-rata antrian dan waktu proses pelayanan.

Analisis
Menganalisa kenapa waktu proses lama, dengan menggunakan tool brainstorming
Dan kemudian divalidasi menggunakan analisa data dan proses. Disini pula perhitungan sigma (deviasi) dilakukan.

Improve
Sumber penyebab yang ditemukan menjadi dasar untuk mencari solusi. Kemudian mengimplementasikan nya dalam skala kecil.

Control 
Ketika tindakan perbaikan berhasil mengurangi waktu proses dan membuat pekerjaan pegawai lebih mudah, langkah selanjutnya adalah membakukan sistem agar masalah tidak kembali lagi.

Sumber: